Rata Lama Anak Sekolah di Takalar 6,9 Tahun

3

INTILIPUTAN, TAKALAR– Angka rata-rata lama anak menempuh pendidikan di Kabupaten Takalar berkisar 6,9 tahun. Hal ini menjadi salah satu faktor rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ada di daerah tersebut jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

“Di Kabupaten Takalar, lama sekolah rata-rata warga hanya 6,9 tahun dan ini cukup mempengaruhi IPM kita yang berada pada urutan ke-24. Olehnya itu, kita ingin meningkatkan IPM kita melalui peningkatan kualitas pendidikan masyarakat,” kata Syamsari, di acara Penyerahan Dokumen Data Putus Sekolah Program Gerakan Ayo Kembali Bersekolah di Kantor Camat Polongbangkeng Utara, Rabu (9/10/2019).

Adapun faktor yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah cukup beragam. Mulai dari budaya yang ada di masyarakat itu sendiri seperti menikah di usia dini, lingkungan, hingga faktor ekonomi.

Kondisi sosial yang menguatirkan masa depan bangsa inilah yang direspon Pemerintah Kabupaten Takalar dengan program cepat dan tepat sebelum jumlah anak harapan bangsa yang terlantar pendidikannya itu terus bertambah.

Pemerintah khawatir, jika kondisi ini tidak segera diatasi akan semakin meningkatkan problem sosial seperti kejahatan dan pengangguran di kemudian hari saat kompetisi global semakin ketat.

Atas realitas itulah pemerintah daerah meluncurkan program Gerakan Ayo Kembali Bersekolah. Program diharapkan menjadi gerakan nyata untuk mengurai problem dunia pendidikan itu.

“Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap tingkat pendidikan dan pengetahuan warga. Oleh karena itu, kita harus mengintervensi warga untuk kembali bersekolah pada Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) melalui program bantuan yang didapatkan warga dari pemerintah,” ucap Syamsari.

Syamsari mengatakan pemerintah ingin kualitas masyarakat meningkat terlebih saat ini masuk dalam era berkembang, tidak lagi seperti tahun 80-an dimana teknologi tidak berkembang.

“Saya berharap kepala desa dan lurah untuk bekerjasama dalam pelaporan data anak putus sekolah, apalagi desa yang memiliki kader-kader desa yang dapat membantu. Hal Ini dilakukan untuk merubah data demografi kita, dalam penghitungan IPM dari segi rata-rata lama sekolah,” harapnya.(*)